Tampilkan postingan dengan label Celoteh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Celoteh. Tampilkan semua postingan

Senin, Maret 01, 2010

Islam dan Terorisme*

Sejarah Terorisme
 
Perkembangan terorisme bermula dari bentuk fanatisme aliran kepercayaan yang selanjutnya berubah menjadi pembunuhan, baik secara perorangan maupun oleh suatu kelompok terhadap penguasa tiran. Istilah “teror” dan “terorisme” mulai populer abad ke-18, namun sesungguhnya fenomena yang ditujukannya bukanlah sesuatu yang baru. Menurut Grant Wardlaw [.....gw juga gag kenal seh, he he he] dalam buku Political Terrorism (1982), manifestasi Terorisme sistematis muncul sebelum Revolusi Perancis, tetapi baru mencolok sejak paruh kedua abad ke-19. Dalam suplemen kamus yang dikeluarkan Akademi Perancis tahun 1798, terorisme lebih diartikan sebagai sistem rezim teror.

Kata “terorisme’ berasal dari Bahasa Perancis le terreur yang semula dipergunakan untuk menyebut tindakan pemerintah hasil Revolusi Perancis yang mempergunakan kekerasan secara brutal dan berlebihan dengan cara memenggal 40.000 orang yang dituduh melakukan kegiatan anti pemerintah. Selanjutnya kata “terorisme” dipergunakan untuk menyebut gerakan kekerasan anti pemerintah di Rusia. Dengan demikian maka kata “terorisme” awalnya dipergunakan untuk menyebut tindakan kekerasan oleh pemerintah atau kegiatan yang anti pemerintah. Terorisme bentuk ini, pada akhir abad ke-19 muncul hampir diberbagai belahan dunia, karena terorisme dianggap cara paling efektif untuk melakukan revolusi politik maupun sosial, dengan cara membunuh orang-orang yang berpengaruh. [...hah, cam kan ene, gag lepas dari unsur politis deh,... lanjut] Sejarah mencatat pada tahun 1890-an aksi terorisme Armenia melawan pemerintah Turki, yang berakhir dengan bencana pembunuhan masal terhadap warga Armenia pada Perang Dunia I. Pada dekade tersebut, aksi Terorisme diidentikkan sebagai bagian dari gerakan sayap kiri yang berbasiskan ideologi.

Bentuk terorisme terus mengalami perkembangan :

  1. Pertama, Sebelum Perang Dunia II, Terorisme dilakukan dengan cara pembunuhan politik terhadap pejabat pemerintahan.
  2. Bentuk kedua Terorisme dimulai di Aljazair di tahun 50-an, dilakukan oleh FLN yang mempopulerkan “serangan yang bersifat acak” terhadap masyarakat sipil yang tidak berdosa. Hal ini dilakukan untuk melawan apa yang disebut sebagai Terorisme negara oleh Algerian Nationalist.
  3. Bentuk ketiga Terorisme muncul pada tahun 60-an dan terkenal dengan istilah “Terorisme Media”, berupa serangan acak terhadap siapa saja untuk tujuan publisitas, Terorisme bentuk ketiga ini berkembang melalui tiga sumber, yaitu:

  • kecenderungan sejarah yang semakin menentang kolonialisme dan tumbuhnya gerakan-gerakan demokrasi serta ham
  • pergeseran ideologis yang mencakup kebangkitan fundamentalis agama, radikalis setelah era perang Vietnam dan munculnya ide perang gerilya kota.
  • kemajuan teknologi, penemuan senjata canggih dan peningkatan lalu lintas.

Namun terorisme bentuk ketiga ini dianggap kurang efektif dalam masyarakat yang ketika itu sebagian besar buta huruf dan apatis, sehingga dampaknya sangat kecil. Akan lebih efektif menerapkan “the philosophy of the bomb” yang bersifat eksplosif dan sulit diabaikan. [...wajar lah cuy, gag usah yang jaman dulu orang belum pada pinter baca, skarang aja males baca selebaran yang gag penting, ngajak-ngajak dengan dalih menegakan demokrasi, pake acara militan pa selulitan, or apa lah itu, pasti ogah ay kalo gag ada kepentingan pribadi g terusik, ye kan?!, he he gw ja gitu kok, lanjuttt..]

Pasca Perang Dunia II, dunia seolah tidak pernah mengenal damai. Berbagai pergolakan berkembang dan berlangsung secara berkelanjutan. Konfrontasi negara adikuasa yang meluas menjadi konflik Timur - Barat dan menyeret beberapa negara Dunia Ketiga ke dalamnya menyebabkan timbulnya konflik Utara - Selatan. Perjuangan melawan penjajah, pergolakan rasial, konflik regional yang menarik campur tangan pihak ketiga, pergolakan dalam negeri di sekian banyak negara Dunia Ketiga, membuat dunia labil dan bergejolak. Ketidakstabilan dunia dan rasa frustasi dari banyak Negara Berkembang dalam perjuangan menuntut hak-hak yang dianggap fundamental dan sah, membuka peluang muncul dan meluasnya Terorisme.

Fenomena Terorisme meningkat sejak permulaan dasa warsa 70-an. Terorisme dan Teror telah berkembang dalam sengketa ideologi, fanatisme agama, perjuangan kemerdekaan, pemberontakan, gerilya, bahkan juga oleh pemerintah sebagai cara dan sarana menegakkan kekuasaannya, mementuk terorisme gaya baru.

Terorisme gaya baru mengandung beberapa karakteristik:
• ada maksimalisasi korban secara sangat mengerikan.
• keinginan untuk mendapatkan liputan di media massa secara internasional secepat mungkin.
• tidak pernah ada yang membuat klaim terhadap Terorisme yang sudah dilakukan.
• serangan Terorisme itu tidak pernah bisa diduga karena sasarannya sama dengan luasnya seluruh permukaan bumi.

Islam dan Terorisme dalam Wacana Masyarakat

Terorisme sebagai sebuah paham, memang berbeda dengan kebanyakan paham yang tumbuh dan berkembang di dunia. Terorisme selalu identik dengan teror, kekerasan, ekstrimitas dan intimidasi. Para pelakunya biasa disebut sebagai teroris. Karena itu, terorisme sebagai paham yang identik dengan teror seringkali menimbulkan konkuensi negatif bagi kemanusiaan. Terorisme kerap menjatuhkan korban kemanusiaan dalam jumlah yang tak terhitung.

Terorisme kian mencuat ke permukaan, tatkala gedung pencakar langit, World Trade Center (WTC) New York, hancur-lebur diserang sebuah kelompok. Pada titik ini, terorisme kian dipertanyakan dan dipersoalkan. Apa sebenarnya terorisme itu? Benarkah terorisme teridentifikasi sebagai penyebab utama di balik penyerangan tersebut?

Pengeboman bus turis asing di Kairo, penembakan para turis di Luxor, Mesir, pengeboman kedubes AS di Kenya dan insiden yang serupa merupakan salah satu bentuk aksi-aksi terorisme. Dalam insiden tersebut membuktikan, bahwa ribuan nyawa manusia yang tidak berdosa raib akibat ulah para teroris. Orang tua-renta, dewasa, anak muda dan bayi turut menanggung akibat dari pertarungan ideologi.
Pada titik ini, terorisme mendapatkan sorotan serius dari masyarakat dunia, bahwa cara-cara yang ditempuh para teroris dapat mewujudkan instabilitas, kekacauan dan kegelisahan yang berkepanjangan. Masyarakat senantiasa dihantui perasaan was-was dan tidak aman. Namun pertanyaan yang muncul kemudian, “Siapa sebenarnya yang melakukan aksi-aksi terorisme?”

Belum lepas dari pertanyaan-pertanyaan itu, muncul pertanyaan yang tidak pernah terjawab lagi, adakah korelasi fungsional antara Islam dan Terorisme? Bisakah gerakan keagamaan yang diduga dalang terorisme sebagai representasi Islam, baik dalam ranah ajaran maupun pengikutnya?

Stigmatisasi Islam sebagai agama teroris makin dahsyat. Ini terkait erat dengan maraknya gerakan Islam Politik yang menunjukkan pandangan-pandangan fundamentalistik. Fenomenanya, pasca-runtuhnya menara kembar WTC, respon sebagian besar gerakan Islam Politik bukan malah simpati terhadap korban kemanusiaan, melainkan makin memperbesar resistensi terhadap barat. Dan yang mengemuka adalah semangat anti-barat. Apapun yang datang dari barat senantiasa dikecam dan ditolak. Sikap tersebut memang bukan tanpa sebab. Mengerasnya sikap Islam Politik juga seiring dengan kebijakan politik luar negri Amerika Serikat yang semakin keras, terutama menyangkut konflik Israel-Palestina dan rencana serangan ke Irak. Ini justru memberikan amunisi bagi reaksi yang semakin kencang dari kalangan Islam Politik.

Namun demikian, perihal yang tidak bisa diabaikan begitu saja, bahwa potensi-pontensi bagi terbentuknya pemahaman keagamaan yang menjurus pada terorisme dalam tradisi Islam bisa didapati dengan mudah. Ini biasanya disebabkan pandangan tekstual terhadap kitab suci. Kamal Abul Madjid (2000) dalam al-Irhab wa al-Islam (Islam dan Terorisme) membenarkan, bahwa terorisme dalam tradisi Islam terbentuk melalui pandangan keagamaan yang mengacam dan menakutkan (al-tahdid wa al-takhwif).

Terorisme dalam bahasa Arab disebut al-irhab. Istilah tersebut digunakan al-Quran untuk melawan “musuh Tuhan” (QS.8:60). Karenanya, kalau kita mencermati gerakan Islam Politik, pandangan fundamentalistik dan gerakan radikalistik seringkali digunakan untuk melawan “musuh Tuhan”. Bagi mereka, barat disebut sebagai salah satu simbol musuh Tuhan.

Dalam mengidentifikasi musuh, Islam politik menggunakan tiga pandangan mendasar. Pertama, politik sebagai bagian dari Islam. Berpolitik praktis merupakan kewajiban (fardlu) bagi setiap muslim. Ini mengakibatkan setiap muslim harus terlibat dalam politik guna melawan “politik kafir”. Kedua, Islam sebagai komunitas yang paling benar, sedangkan yang lain dianggap murtad. Ketiga, kecenderungan untuk memaksakan pandangan dengan “tangan besi”, kekerasan, pembunuhan dan perang, yang biasa disebut dengan jihad fi sabililillah. (Sa’id Asymawi: 1996: 297)

Di sinilah, letak problematikanya, tatkala Islam dijadikan sebagai lanskap politik, karena tidak mampu mengakomodasi “pandangan lain” dan “kelompok lain”. sehingganya pandangan tersebut berdampak negatif, tidak hanya bagi orang lain, akan tetapi bagi Islam sendiri.

[Note, he he he : Namun katanya pasca pengeboman gedung WTC, banyak orang justru memeluk islam, di Jepang, penjualan kitab suci Alquran dan buku-buku tentang Islam laku keras. Di Amerika Serikat, lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang berbasis Islam sibuk melayani kunjungan warga Amerika Serikat yang ingin mengetahui lebih dalam tentang ajaran Islam. Mereka semua penasaran apa isi dari ajaran-ajaran Islam sesungguhnya] humm, aneh-aneh aje ye?!

Globalisasi Terorisme

Salah satu tersangka pelaku serangan ke World Trade Centre (WTC) pada 11 September 2001 di Amerika Serikat, Khalid Sheikh Mohammed, tiba-tiba mengejutkan dunia dengan pengakuannya, bahwa dia bertanggungjawab atau otak di balik tersebut dan juga terlibat dalam merencanakan 30 serangan teroris sejak 1993 di pelbagai belahan dunia (Kompas, 16/03/2007). Pengakuan ini penting bagi kelanjutan perang dunia melawan terorisme. Pengakuan ini juga kembali menegaskan bahwa jaringan terorisme memang telah masuk ke dalam sistem globalisasi dimana batas-batas teritorial negara menjadi kurang relevan.

Globalisasi adalah sebuah sistem dunia yang semakin menegaskan wujudnya pasca Perang Dingin. Jika pada masa Perang Dingin dunia ditandai oleh pembagian wilayah yang jelas antara blok Barat (kapitalis), blok Timur (komunis) dan non-blok (negara-negara berkembang), maka globalisasi ditandai oleh integritas dunia melalui jaringan informasi dan penemuan teknologi transportasi yang semakin mengaburkan batas-batas wilayah teritorial. Perang Dingin ditandai oleh adanya batas wilayah, sementara globalisasi muncul menghancurkan batas, dunia malah dihubungkan dalam jaringan besar tanpa batas.

Pada titik ini, terorisme masuk ke dalam jaringan globalisasi dengan sangat baik. Mereka menggunakan semua fasilitas globalisasi dengan teliti dan muncul sebagai kekuatan yang menyeramkan. Itulah sebabnya, terorisme bisa muncul di pelbagai tempat yang berbeda dalam waktu yang hampir bahkan bersamaan.

Terorisme juga memberi definisi yang baru terhadap musuh negara dalam globalisasi. Jika pada era sebelumnya musuh negara adalah negara lain, seperti Amerika Serikat bermusuhan secara jelas yang oleh karenanya saling mengancam dengan Uni Soviet, maka globalisasi, melalui terorisme, membuktikan bahwa musuh negara bisa jadi adalah satu individu atau sekelompok orang. Osama bin Laden dan kelompoknya menjadi musuh utama Amerika Serikat saat ini, dimana pemerintah Amerika Serikat bisa mengeluarkan anggaran dan memuntahkan banyak amunisi untuk menghabisi Osama dan pengikutnya, anggaran dan amunisi yang jumlahnya sama dengan yang digunakan untuk memerangi negara lain di masa lalu. Ciri lain dari globalisasi adalah bahwa setiap persoalan tidak lagi bisa dipandang dari sudut pandang tertentu, melainkan selalu memiliki keterkaitan dengan persoalan lain di tempat-tempat lain.

Namun perlu disadari bahwa sesungguhnya mengkaji tentang terorisme dan Islam tidaklah sesederhana tersebut, karena pada dasarnya keduanya merupakan kajian yang terpisah, sehingganya sangat diperlukan pemahaman mendalam terlebih dahulu mengenai masing-masing kajian sebagai suatu ilmu, tanpa disertai sikap sentimen dan tendensius khususnya terhadap agama tertentu. Karena seperti dijelaskan di atas, bahwa sejarah terorisme sendiri tidak lepas dari unsur politis. Dengan demikian diharapkan memperoleh pemahaman dan sikap yang lebih arif bagi masing-masing individu baik seorang yang menjalankan dan mendalami ajaran Islam, yang biasa-biasa maupun di luar Islam. Karena ilmu bahkan menjelaskan agama sementara agama menempatkan ilmu pada kebenaran. [Yeah... he he he]

* Tulisan ini dari beragai sumber yang dibahasakan kembali.

Andai saja lidahku layaknya gaun!


Dalam usaha pencarian materi sekunder, tak akan sampai sadar diri mencelupkan seluruh jiwa rasio yang berisi kecerdasan yang tepat menentukan dan kebodohan yang salah memanfaatkan. Sekali mempunyai keinginan untuk berusul satu kepentingan tidak lah selalu menemukan jawaban dalam bulatnya kata sepakat.

Aku mengusulkan bahwa inilah yang salah. Kesalahan yang masif, dan ketika masifnya tak sampai mengakomodasi kaum minoritas, adalah sebuah ketidakstabilan yang muncul. Seiring materi yang terus bergerak tak akan sampai diamnya hanya menjadi sebuah siklus.

Aku mengusulkan cara yang alami. Terbantahkan! Tidak ada yang alami, tidak pernah, jika yang diharapkan adalah keabadiannya fakta. Lalu aku tak bermaksud mengeja ulang lagi sebagai keraguan. Melainkan hanya itu yang bisa aku lakukan. Jangan pernah mengharapkan kekuatan dari yang alami. Terlepas dari materi kecerdasan sekunder yang dapat dipetik, karena melepaskan adalah yang selama ini disebut demikian.

Aku akan banyak membawamu ke dalam keadaan yang sama dalam gerak yang berbeda. Gerak yang abadi membawamu menuju perubahan yang abadi. Tapi aku membuatmu berpikir beda seolah tidak menyadari gerakmu sendiri wahai abadi.

Kekagumanku mengalahkan kenormalan, tapi tidak lekas saja sadar jika kenormalan terbentuk dari tindak-tindak yang sesuai norma. Aku tidak ingin membawa kedalam perubahan sesat, ketika materi menerjemahkan tindakanku sebagai abnormal.

Ini pengakhiran dan sebuah kejujuran : “Jika ingin solusi jangan pernah dengar bahasaku, kecuali bahasa gerak tangan dan kaki serta bahasa tubuhku”.

Andai saja lidahku layaknya gaun, akan aku lepas sewaktu tangis dan jerit hatiku mendapati mereka menyadang kesadaran magis dan naifnya, sehingga aku tak akan sempat hanya berbicara. Jika kurang akan ku-format otakku sehingga hanya ada program yang baru sesuai keadaan dan kepentingan yang memihak untuk raga betindak.

Binatang yang benci pada logika (Aku Perempuan)

Aku ini binatang. Sudah jelas lah itu. Ini kenyataan dari penelitian selama dua puluh satu tahun, pengalaman diri dan keluh sesamaku padaku. Aku dan kaumku memang mirip dengan manusia, tetapi sungguh kaumku sendiri dan para manusiapun tahu betul bedanya kami.

Manusia itu suka pujian, berpikir dengan otaknya, berinteraksi dan manipulasi, dan sering juga bertindak dengan nalurinya. Ya, sama seperti aku dan kaumku. Sampai aku sadar pada hari ini aku dan kaumku adalah binatang, yang suka dipuji dan terlindungi, tanpa aku tahu apa yang aku inginkan sebenarnya, jangan pernah tanya apa mauku, karena manusia bilang aku ini pembohong tapi tolol, tapi sungguh tiada maksud aku membela kaumku, kami sendiri tak pernah tahu. Kami hanya ingin aman dan nyaman di sisi manusia.

Aku telah banyak membaca dari karya manusia-manusia hebat. Mereka jenius, aku pun tahu berbagai karya mereka yang luar biasa di kalangan mereka, walau sebatas tahu dan tak pernah mengeri isinya, cerita itu yang haru, marah, gembira, tawa, sampai realita yang tak tersurat, dari politik-hukum-ekonomi dan konspirasi tingkat tinggi tidak hanya dalam negeri bahkan seluruh dunia. Tapi aku tahu pasti aku takkan sanggup seperti para manusia.

Pernah pun ada perjuangan kaum kami, untuk membela hak-hak kesamaan antara kaum kami dan para manusia. Ya, di negeri yang pernah dipimpin oleh kaum kami ini, pernah ada sejarahnya. Tetapi naluri kami selalu membuat kami takkan sama seperti para manusia. Sungguh aku sendiri takut untuk mengetahuinya, kami selalu beryakin utamanya, ya, hanya sebuah keyakinan dalam hati yang kami puji dalam setiap laku tindak kami. Kami kaum yang membenci logika tidak seperti para manusia, kami tak pernah bisa sampai membutuhkan bukti, karena kami tak pernah tahu apa yang kami inginkan.

“Kami memang makhluk yang kompleks, banyak manusia bingung apa sebenarnya yang kami mau. Kadang kami berkata “A”, tapi saat manusia memberikan “A” kami berubah pikiran dan menginginkan “B”, pada saat manusia memberikan “B”, kami bilang bahwa ternyata “A” lebih bagus tanpa alasan yang masuk akal. Kami tak pernah sadar. Aku tak tahu begaimana para manusia memandang kami.”

Kata manusia kaum kami suka dibohongi. Tapi aku merasa kami selalu tak pernah jujur walau pada diri kami sendiri, seperti ketika kami bilang “kami tidak suka dibohongi” …

Di antara rasional dan logika

Waktu waras dan gila menjadi persoalan yang menarik untuk di jadikan objek perdebatan pikiran, ketika Jacob Sumarjo dalam Jeihan Ambang Waras dan Gila, saya pikir ini memang sebuah filsafat, mencari alasan bukan pembenar, karena benar dan salah adalah hasil proses berpikir manusia modern yang rasionalis, melainkan memahami secara logika tenatng kewarasan dan ketidakwarasan. Memahami adalah kebenaran yang faktuil itu di munculkan, namun saya rasa memang tidak akan lagi lepas dari rasionalitas individu semata. Secara logika adalah mampu di jelaskan mengenai rasional dan irrasional. Rasional di mana mempunyai titik berat terhadap tolak berpikir manusia modern sedangkan irrasional adalah mereka yang pra-modern, dan sebuah pikir ini adalah olah pikir manusia modern. Bagi logika dapat saja menjelaskan sebaliknya bahwa irrasional itu untuk manusia modern bila saja manusia pra modern berpikir!?, syah-syah saja.

Modern dan rasional adalah memecah, memilah-milah, menganalisis dan kemudian berusaha disatukan kembali dalam pemahaman rasional. Pemecahan dan pembongkaran bagian demi bagian. Dipahami dari analisisnya, tentang alam ini, yang ternyata ini itu, bangsa ini yang ternyata begini begitu, begitu begini. Semua tergantung dari kekutan berpikirnya, karena alat kebenran faktuil adalah kemampuan berpkir. Mencakup semua hal, tanpa batas hingga Tuhan pun menjadi objek pikiran, apa benar? Tuhan saingan manusia? Siapa?!

Menemukan bahwa kebenaran manusia modern adalah kebenaran subjektif, yang benar adalah yang dominan, yang benar adalah yang dapat mengalahkan dan menyalahkan argumentasi pikiran yang lain. Sehingga debat adalah menentukan dominasi pikiran atas publik. Benar!

Sedang yang pra-modern itu kosmosentris, meskipun tak lagi peduli terminologi, karena ini hanya pikiran modern.

Kosmosentris, adalah hidup. Manusia itu bukan apa-apa, apalagi segala-galanya, dalam pewartaan modern sering ada utuk kisah cinta. Manusia itu tak beda dengan batu, air, tanah, angin, laut, api yang panas, sungai, bintang di langit. Manusia hanya salah satu dari alam. Hidup manusia adalah mempertahankan yang ada ini, bukan untuk mengubahnya menjadi maju. Sebab manusia tak bisa mengubah apa-apa bahkan dirinya sendiri, perubahan satu-satunya adalah perubahan oleh kosmo itu sendiri, perubahan yang kodrati. Semua harus tunduk pada yang ada ini, karena dasarnya tidak ada yang mampu melawan keselarasan yang hidup yang terangkum dalam kosmo. Melanggarnya berarti merusak, jika kosmo rusak manusia juga rusak.

Ini dalam persoalan perdedatan seorang homosapiens. Dalam waras yang mengejek gila. Waras dan gila yang masing-masing mewakili masyarakat. Buka sebuah gila dan waran seorang. Ini norma sampai politiknya. Manusia sampai negaranya.

Yakinkan waras dan gila adalah kelainan. Lihat itu melalui rasional dan irrasional melalui logika. Atau apapun jika diantara Anda, saya tidak tahu tergolong yang mana. Logika.

Ketegasan untuk seorang pemimpi

Katakan padaku sekali saja, jawab saja, dan aku juga inginkan kamu membutuhkan waktu yang lama sekali untuk menguraikan jelas jawabanmu. Sehingga aku punya alasan waktu bersamamu. Romantisme hubungan kita, ya derita waktumu menunggu, kepedihan waktumu dalam monolog mengartikan kata singkatku atau sikapku yang lalu sepintas. Segala kebaikan punya tempat dalam waktunya sendiri dan takkan terhapus oleh pahit di waktu yang lain. Kamu membuat aku menerti bagian hidupku, yang terwujud menjelma bagai siluman yang bersikap memperdaya, kamu melukiskannya di hatiku dan usai itu kamu terbang menjauh dari aku, tetapi kamu isyaratkan ajakmu dengan senyuman dan tengokmu serta tatapan membuang tertinggal di kelopak mataku.

Kini aku membayangkan sosokmu dari belakang saat kamu pergi terbang dari aku. Aku punya harapan waktu untuk bersamamu lebih lama disaat kamu datang nanti. Aku punya rencana untuk membawamu dan tinggal selamanya dengan diriku, mengisi atma lukisanmu dihatiku sehingga hidup dan selalu menyerta dalam hari-hari baik dan pahit yang menjelang.

Ya, aku punya rencana itu, meskipun janji kita hari ini hanya untuk bertemu sesaat dan kamu akan pergi lagi, ya, janji hari ini adalah sebuah ketegasan dan seharusnya tanpa harapan lebih. Tetapi tidak lah aku menuainya secara berlebih dalam waktu yang akan dijalani ditemu kita.

Namun banyangan yang aku tuai di dunia nyata ini baru aku sadari itu pertemuan dalam mimpiku, saat kamu melukiskan dan terbang dan tersenyum, dan telah lama aku menanti di tempat ini untuk bertemu denganmu seperti janji kita. Aku beranjak lagi, dengan berat aku tinggalkan tempat janjian kita, dan bergegas tidur. Tapi tiba-tiba.

Kamu menelponku dan meminta maaf tak bisa datang dan baru bisa memberi tahu. Ibumu memintamu mencari adikmu yang belum pulang hingga sore, padahal kamu sudah berdandan untuk bertemu aku. Tapi, aku telah memafkanmu karena dihatiku kamu melukis senyum sebesar seluruh hatiku, dan aku tak punya tempat lagi meletakkan marahku.

Kamu menawarkan padaku janji di esok hari dan sekaligus menawarkan waktu yang lebih lama bisa bersamamu untuk menebus kealpaanmu. Tentu saja aku senang dan aku mengiyakan saja dengan setulus hatiku sungguh aku begitu bahagia. Kamu tutup telponmu dan aku bangun dari tidurku dikesunyuian siang.

Pernahkan sering merasa terpesona dengan kehendak alam atas dirimu?


Walau itu mengejutkan, karena itu pesonanya. Yang terungkap dalam dialektika dengan materi strategis ini tertuang dalam bahasa kembali, mengkomunikasikan kembali. Tiada materi yang tidak bergerak atau bahwa gerak itu materi, seperti demikian seterusnya. Singgah sejenak dalam betuk skeptisnya diri, karena memaksakan diri masuk ke dalam proses belajar yang tiada kenal waktu terlambat, karena sampai mati akan terus belajar. Satu hal yang berbeda dalam sistem disiplin yang wajar, atas ilmu semua keterlambatan ditoleransikan (…hehe, jadi kalo terlambat masuk kelas, bilang aja “tiada kata terlambat untuk belajar”).Lalu melelahkan diri yang terkadang dilingkupi dukungan skeptis.

Dalam diri yang “tidak seberapa ini” (begitu kiranya nilai teoritis yang terkandung) sudah “dicaci maki” tetapi “tercaci maki” lagi dalam proses sesudah kepanjangannya, semenjak saat cacian membuat diri skeptis namun bangkit kembali atas dasar idealisme dan ajaran-ajaran kebaikan (lurus) untuk selalu radiakal dan kritis memahami esensi atas proses pembelajaran atau sisi lain dari pergulatan (dialektika) dengan materi yang stategis, dengan hampir dapat disimpulkan diri telah menyimpang dari ajaran krtisi proses, namun diimbuhkan dalam wujud normal nilai yang sewajarnya setara dengan kepuasan yang semu dan butuh dikritisi, apakah layak?

Tetapi dihidangkan kenyataan-kenyataan pahit yang dicontohkan sebagai kasus pada proses pembelajaran itu, justru diri merasa terpesona dengan fakta kemunafikan itu, terus bertimbang-timbang fikir untuk mencari pasokan ide menopang idealisme diri dengan tetap radikal dan kritis terhadap esensi pada proses yang menyinggung “munafik” yang menjijikan, membangun diri ini semakin menyedihkan dalam memupuk egoisme membangun topang diri tetap  ideal. Walau sungguh pun disadari konsisten itu setara dengan tiada kecuali kekonsistenannya tiada.

Sampai kapan akan percaya karma? Sudah hingga sampai pertanyaan akan surga dan neraka, namun berbagai materi stategis mengilhami setiap atma dari pikiran, ucapan dan tindakan diri yang bergerak secara nyata. Yang saat ini bukan untuk bertanya mengapa berpikir untuk esok namun “tindakan berpikir” untuk sekarang, dalamnya sedemikian pun begitu melelahkan.

Sudah bersyukur ada yang mencintai, sudah bersyukur ada kemampuan berpikir.

Pengantar pulangnya pemikiran bijak

Terhubungkan dengan salah satu program kius di televisi. Pastinya yang aku ingat guruku itu unik, selain karena wajahnya yang mirip artis sinetron pada waktu itu sebagai tokoh “Mr. Nero”, juga karena cara mengajarnya yang kuno meski tidak kejam. Aku ingat saat diberi tugas untuk mempelajari salah satu bab, adalah di bagianya terlampir teks tentang kembali belakunya UUD 1945, yang harus kami hapalkan dan bacakan sebagaimana waktu itu Presiden Soekarno membacakannya (sebernya penting nggak penting kan? haha…maksudnya lebih penting nggak pentingnya). Tetapi ada benang merah (ijo juga boleh, biar rame) yang menghubungkan hal itu dengan yang aku alami masa kini. Bahwa teks tersebut tetera No. X, bukan dibaca sepuluh, atau bukan dibaca eks, walaupun memang yang dimaksud adalah huruf X (eks) namun dimaksudkan sebagai tanda sesuatu yang belum diketahui dan masih misterius, wajar karena waktu itu memang keadaan negara masih belum kondusif, sampai lupa harusnya nomer berapa.

Kalau sekarang, di kampus lebih pas lagi awal-awal masuk kampus sebagai mahaiswa. Teringat masa-masa orientasi, mendengar kakak-kakak tingkat dengan suara lantang selalu saja membentak, mengolok, memberi perintah semaunya, yang pada waktu itu, dalam hati ingin berontak tetapi tak pernah. Karena ada pasal yang meyatakan :

Pasal 1 : Kakak Tingkat selalu benar
Pasal 2 : Kalau Kakak Tingkat salah, kembali ke pasal 1

Dalam hati bertanya, dimana keadilan untuk kami? Tetapi pasti akan disuguhkan dari mulai makian sampai kepada yang paling bijak, yang mengatakan kami lebih beruntung ketimbang mereka dulu. Apalagi jika harus membandingkan dengan Inggris yang sudah menghapus budaya orientasi (OSPEK dan semacamnya) sejak tahun 60an. Oh, kenapa jadi kami yang harus berela dan berpaksakan hati, menebus kemalangan mereka. Sekali lagi ditanyakan dimana keadilan? Tetapi musnah saja benak itu, ketika masa berlalu dan Dosen pun memberi pernyataan yang sama :

Pasal 1 : Dosen selalu benar
Pasal 2 : Kalau Dosen salah, kembali ke pasal 1

Duh, beratnya. Lebih lagi yang berkata dosen Hukum Adat, yang disegani karena memang pemikiranya yang luar biasa apa lagi pemikiran hukum progresif, seorang Dotor dan sekarang sudah lebih. Aku teringat dalam kuliahnya, hukum harus mencerminkan apa yang hidup dalam masyarakatnya. Walaupun memang tidak sesingkat itu untuk memperoleh pemahaman yang jelas sangat.

Yang sama lucunya karena aku belum tahu ada dimana aturan yang memuat pasal-pasal itu? Yang ini bukan saja Nomor. X tetapi namanya juga. X, karena masih misterius. Jadi dalam Peraturan Dosen X, Nomor X tentang Tata Tertib bla bla bla.

Jika menilik dalam kajian filsafat (uhm, maaf juga nggak tau amat soal filsafat, tapi inilah…). Filsafat liberalisme yang lahir terlebih dahulu memandang bahwa hukum adalah sesuatu yang netral. Sedangkan filsafat Marxisme melihat bahwa hukum adalah alat yang digunakan oleh pihak yang berkuasa untuk menindas pihak yang dikuasai. Filsafat Marx memang mencita-citakan sebuah masyarakat komunis (tanpa kelas) di mana tiap orang diminta menurut kecakapannya, dan kepada tiap orang diberikan menurut kebutuhannya. Tujuan masyarakat komunis tersebut memang membutuhkan sebuah alat, dan Marx berpendapat bahwa negara merupakan alat yang mungkin untuk mewujudkannya.

Tenyata aku semakin mengerti (dari yang nggak ngerti ke yang agak ngerti aja deh) kenapa salama ini dan sampai kini keadaan menuntut ketidak mampuan manusia untuk melengkapinya dengan perangkat-perangkat hukum. Sikap arogansi adalah pilihan, yang tidak perlu dibesar-besarkan, untuk mencapai tujuan hukum. Dengan begitu maka sesuailah dengan dalilnya bahwa hukum mencerminkan apa yang hidup dalam masyarakat. Kasihan sekali ya! Untuk damai kan memang tak perlu harus adil, ideal. Bohong. Apa iya?,

Atau aku masih belum mengerti? (memang selalu dibuat bego kalo diajar ma orang pinter banget, bego banget dah gw). Ketika harus ujian kelompok dan ada anggota kelompok yang tidak hadir maka semua anggota kelompok harus mengulang mata kuliah tahun depan. Sesaat aku begitu kecewa, apa salah saya? Kenapa harus begitu, saya tidak salah maka saya tidak berdosa! Atau ini cobaan? Seperti orang-orang yang beriman kepada Tuhanya, lalu jika lulus cobaan akan mencapai sebuah strata baru yang hanya dalam dirinya strata itu ada, hingga mencapai kesempurnaan tanpa dosa. Hidupnya damai dan tenang karena penuh keikhlasan, meski di luar dirinya orang tak melihatnya begitu terhadapnya.

Bisa jadi, jika aku rela memandang demikian atas perlakuan dosen itu. Yang sebagai Tuhan untuk menentukan lulus tidaknya mata kuliahnya. Maka harus jauh kembali aku berpikir, “untuk apa aku kuliah?”. Dan aku sejenak merasa hidupku tanpa beban dosa. Ternyata Tuhan tidak pernah tidak adil. Kepada teman-temanku yang serupa, mari pahami ini bukan sebagai bentuk aturan karena ketidak berdayaan pembuatnya tetapi kerena beliau tahu yang terbaik bagi kita, karena beliau serupa Tuhan. Atau kalau tak terima, cukuplah seperti Ben Rendel dalam The Guardian, yang juga memahami hidup sebagai membuat pilihan, ya, seperti yang tak jarang beliau katakan.